Mendesain Optserv: seperti apa dashboard HR yang benar-benar bicara dengan pengguna

Jeriel Isaiah Layantara
CEO & Founder of Round Bytes

Optserv versi awal terlihat seperti dashboard HR lain: sidebar besar, homepage yang ngebanjiri, chart yang tidak ada yang minta. Kompeten, tapi mudah dilupakan.
Lalu kami melakukan sesuatu yang seharusnya kami lakukan lebih awal: kami duduk di samping ops lead saat mereka bekerja.
Dua pola muncul dalam seminggu:
Pola 1: pekerjaan 80%-nya berbentuk tugas, bukan analitis.
Sebagian besar orang membuka Optserv bukan untuk
menganalisis
. Mereka di sana untuk
melakukan satu hal spesifik
: pindahkan kandidat ke tahap interview, setujui request cuti, generate offer letter, mulai offboarding. Dashboard seharusnya mendukung ini, bukan mengganggunya.
Pola 2: momen-momen krusial ada di transisinya.
Hiring → onboarding. Karyawan aktif → cuti. Karyawan aktif → dioffboard. Setiap transisi itu adalah tempat segalanya pecah, di mana akses tetap terbuka atau dokumen telat. UI perlu membuat transisi itu mustahil dikerjakan setengah-setengah.
Jadi kami redesign. Homepage menjadi to-do list, bukan dashboard. Onboarding dapat pre-flight checklist alih-alih dua puluh menu item. Offboarding menjadi satu alur yang menutup record karyawan dan memicu pencabutan Account Vault dalam aksi yang sama, kamu tidak bisa tidak sengaja mengerjakan setengahnya.
Sesi pengguna turun (bagus, orang lebih cepat ke "done"). Task completion rate naik. Tiket support soal "akses-nya beneran sudah dicabut?" menghilang karena jawabannya sekarang "ya, sudah ter-log."
Sebagian besar tim produk bilang mereka bicara dengan pengguna. Lebih sedikit yang benar-benar duduk diam dan menonton pengguna bekerja. Tim yang kedua membuat software yang lebih baik.

